
Assalamu'alaikum wr.wb
Berikut saya posting sebuah artikel yang cukup menggelitik saya dan menurut saya sangat perlu saya tampilkan dipostingan saya. Artikel ini saya dapat dari Majalah Sabili No.19 TH.XV 3 APRIL 2008/26 RABIUL AWAL 1429H. dalam rubrik Tafakur yang ditulis oleh Rivai Hutapea. Judulnya Berkarya.
Selamat menikmati!!
Selamat menikmati!!
Sedikitnya ada dua hal yang sering membuat orang terperosok. Yaitu, membangga-banggakan kejayaan masa lalu dan berangan angan untuk mendapatkan kegemilangan masa depan. Ada satu lagi kalau mau ditambahkan , yaitu sering mengeluh terhadap kondisi yang ada.
Itulah topologi generasi sakit. Generasi yang hanya mampu berbangga terhadap karya para leluhurnya. Yang dengan itu pula mereka berharap mendapatkan kejayaan masa depan. Sehingga tidak mengherankan jika mereka kerap sekali berkeluh kesah kala kesulitan tiba.
Para mujahid Islam, idealnya tidaklah seperti itu . Mereka seyogianya memiliki keyakinan bahwa kegemilangan itu hanya dapat dicapai dengan kerja keras, bukan dengan berbanga-bangga. Kejayaan dapat diraih dengan berkarya, bukan dengan banyak bicara. Sehingga mereka akan berkata, “Ini karyaku”, bukan “ini karya leluhurku.”
Itulah topologi generasi sakit. Generasi yang hanya mampu berbangga terhadap karya para leluhurnya. Yang dengan itu pula mereka berharap mendapatkan kejayaan masa depan. Sehingga tidak mengherankan jika mereka kerap sekali berkeluh kesah kala kesulitan tiba.
Para mujahid Islam, idealnya tidaklah seperti itu . Mereka seyogianya memiliki keyakinan bahwa kegemilangan itu hanya dapat dicapai dengan kerja keras, bukan dengan berbanga-bangga. Kejayaan dapat diraih dengan berkarya, bukan dengan banyak bicara. Sehingga mereka akan berkata, “Ini karyaku”, bukan “ini karya leluhurku.”
Sejarah mencatat begitu banyak pejuang Islam yang mengukir prestasi dengan kerja keras. Sahabat Nabi Abdurrahman bin Auf adalah salah satu diantaranya. Ia termasuk orang kaya di Mekkah. Namun , ia rela meninggalkan segala kenikmatan dunia itu ketika panggilan hijrah tiba.
Namun , kemiskinan itu tak lantas membuat sahabat Nabi ini patah semangat. Sesampainya di Madinah, Ia meminta satu hal saja ke Sa’ad bin Rabi, sahabat nabi lainnya, yaitu tunjukkan arah kepasar. Dengan kerja keras dan mencurahkan segenap kemampuannya, tak lama kemudian, Abdurrahman mampu bangkit, bahkan menjadi konglomerat Islam yang disegani masyarakat saat itu.
Namun , kemiskinan itu tak lantas membuat sahabat Nabi ini patah semangat. Sesampainya di Madinah, Ia meminta satu hal saja ke Sa’ad bin Rabi, sahabat nabi lainnya, yaitu tunjukkan arah kepasar. Dengan kerja keras dan mencurahkan segenap kemampuannya, tak lama kemudian, Abdurrahman mampu bangkit, bahkan menjadi konglomerat Islam yang disegani masyarakat saat itu.
Pada perjalanan berikutnya, Abdurrahman bin Auf mampu berbuat banyak untuk kejayaan Islam. Dalam satu peperangan, Ia menyerahkan 500 ekor kuda untuk perlengkapan tentara Islam, 50 ribu dinar untuk fisabilillah dan menyantuni para veteran perang badar yang masih hidup masing-masing 400 dinar.Abdurrahman bin Auf telah memberi teladan kepada kita bagaimana mengapai cita-cita hari esok dengan kerja keras dan berkarya, bukan dengan mengandalkan kolusi, nepotisme, apalagi korupsi.Itulah hikmah dibalik penciptaan manusia bahwa Allah tidaklah menciptakan manusia melainkan agar mereka berkarya dan beramal
Wassalamu'alaikum wr. wb.
Saidi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar